Bedah Buku “Jurnalisme Keberagaman”

Bedah Buku ini dilakukan atas kerjasama Media Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Universitas Atmajaya Yogyakarta dan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) yang bertempat di Auditorim Kampus IV Universitas Atmajaya Yogyakarta. Ada lebih dari 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa, jurnalis, dan aktivis penggiat sosial.

Usman Kansong, penulis buku ini sekaligus Direktur Pemberitaan Media Indonesia, turut hadir memberikan wacana yang dikembangkannya dalam buku ini. Menurut Usman keberagaman itu artinya di dalam keberagaman ada perbedaaan. Jadi penekanan adalah akan pemahaman akan realitas perbedaan. Dalam hal ini Usman menegaskan bahwa pers punya peran dalam mengkondisikan keberagaman ini, namun harus jujur saat ini pers masih gagal dalam hal ini. Contohnya masih ada pers yang masih sering memberikan label kepada sekelompok orang sesat, bahkan pers juga masih dianggap enggan memberikan berita yang menditail dalam hal-hal yang berbau konflik SARA. Ada 4 prinsip dalam jurnalisme keberagaman menurut Usman, yakni Fokus Pada keberagaman, mengedepankan Hak Asasi Manusia (HAM), Ada keberpihakan dalam membela korban yang biasanya adalah kelompok-kelompok minoritas, serta punya presfektif tentang gender. Dalam penutupnya Usman menegaskan bahwa jangan sampai orang diperlakukan berbeda karena identitasnya.

Lukas Ispandriarno, dosen  Universitas Atmajaya Yogyakarta yang turut menjadi penanggap mengapresiasi buku ini sebagai karya intelektual yang sangat sesuai dengan karya akademis dan layal menjadi disertasi. Temuan-temuan media-media yang tidak berpresfektif keberagaman dipaparkan dipaparkan dengan beliau. Dalam hal ini Lukas memberikan masukan dalam buku ini untuk memaparkan cara-cara menerobos dominasi pihak yang merasa mayoritas. Karena pihak inilah yang relatif sering menjadi pelaku dalam kasus-kasus SARA.

Selanjutnya Widiarsi Agustina, Ka Biro Tempo DIY-Jateng, sebagai penanggap kedua mengawali tanggapannya dengan penekanan akan pentingnya independensi jurnalis sebagai point utama dalam membicarakan jurnalisme keberagaman. Menuurt Widiarsi, seorang jurnalis harus menentukan terlebih dahulu apakah jurnalis itu pekerjaan atau menekuni profesi. Karena kalau pekerja akan terjebak dengan sistem produksi dan oplah. Yang mirisnya menurut beliau mayoritas jurnalis saat ini lebih melihat trand di media sosial terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan. Seorang jurnalis yang taat pada fakta, displin dan punya nyali pada verifikasi pasti tidak akan ikut-ikutan menyebarkan hoax seperti yang terjadi saat ini.

Penanggap terakhir, Agnes Dwi Rusjiyati yang mewakili ANBTI, memaparkan beberpa temuannya dan tim di lapangan, khususnya di daerah DIY. Beberapa media cenderung memicu pertambahan masalah karena kurangnya (bahakan tidak adanya) verifikasi. Akibatnya korban mejadi semakin tersudutkan dan di bahkan media ikut mensesatkan. Oleh karena itu tidak heran jika banyak korban takut terbuka dengan media, karena merasa bisa akan semakin dirugikan. Untuk itu ANBTI mengajak media-media untuk bersama-sama memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat dan turut berpihak kepada korban-korban tindak intolransi.

Peran jurnalis tentu sangat penting dalam menyampaikan berita yang mendidik kepada masyarakat, karena itu sangat dipandang perlu agar para jurnalis benar-benar memahami tentang keberagaman khususnya yang menyangkut tentang perbedaan agama, suku dan gender. (by: RnB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *