Belajar Islam dari Fazlur Rahman

Fazlur Rahman, nama yang fenomenal di kalangan akademisi dan studi keislaman di seantero penjuru dunia. Jangan berbicara kajian Islam kontemporer kalau belum menyentuh pemikiran Fazlur Rahman. Di Indonesia, salah satu tokoh yang menimba ilmu langsung dari Fazlur Rahman adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, atau lebih akrab disapa Buya Syafii.
Belum lama ini, tepat tanggal 23 Maret kemarin, diselenggarakan bedah buku ‘Islam’ Fazlur Rahman dengan pembedah utama Buya Syafii di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga. Sungguh, rasanya tepat sekali mengkaji buku tersebut dalam situasi Indonesia saat ini. Meski buku ini terhitung buku yang cukup tua, tetapi, spirit dan pesannya masih hangat untuk diaplikasikan saat ini.
Betapa tidak? Di saat orang-orang ramai memperbincangkan aksi bela Islam, aksi bela al-Quran, dll. Kita luput pada satu pertanyaan mendasar, Islam seperti apa yang kita bela? Tepat sekali, dalam buku ‘Islam’, Fazlur Rahman memaparkan bagaimana perkembangan Islam mulai dari awal munculnya di jazirah Arab hingga berkembang ke berbagai pelosok dunia. Sampai disini, sebenarnya kita belajar bahwa pemahaman Islam itu tidak tunggal. Lantas, Islam mana yang kita bela?
Belajar dan membaca buku ‘Islam’ membuatku membuka mata, bahwa ada hal-hal baru yang selama ini belum banyak disentuh dalam tataran praktis. Rahman menegaskan bahwa al-Quran itu merupakan kitab yang berisi pesan moral keagamaan, bukan dokumen hukum. Disini kita belajar, bahwa sebenarnya spirit awal kemunculan Islam adalah spirit moral. Nabi Muhammad pun menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak (moral) manusia. Bukan berarti hukum itu tidak penting, tetapi sejatinya kajian hukum itu tidak lepas dari prinsip-prinsip moral. Contohnya, praktek poligami yang sering dijadikan praktek pernikahan sebagian orang. Kita masih berdebat seputar hukum, tetapi seringkali abai terhadap pesan moral ayat-ayat yang berbicara tentang poligami.
Sejatinya, pesan moral inilah yang menjadi spirit keberagamaan. Pesan-pesan keadilan, perdamaian, dan kasih sayang harus menjadi basis dalam beribadah dan bermuamalah. Bahkan, berlaku adil pun diwajibkan terhadap orang yang kita benci sekalipun.
Sayangnya, saat ini pesan-pesan moral keagamaan tersebut tenggelam dalam arus kebencian oleh oknum pemuka-pemuka agama. Disinilah pesan buya Syafii untuk menyuarakan kebenaran patut diapresiasi dan ditiru. Menyampaikan pesan-pesan moral keagamaan, meski itu dianggap anti mainstream atau kontroversi, harus terus disuarakan. Toh, di masa awal dakwah Nabi Muhammad, beliau juga dianggap kontroversi oleh masyarakat Arab.
Sampai disini, sebenarnya bukan masalah kontroversi atau tidak yang perlu dikembangkan. Tetapi, kewajiban kita adalah menyuarakan pesan-pesan moral sesuai dengan hati nurani kita, meski hal tersebut dianggap kontroversi. Dan pada akhirnya, bangsa Indonesia membutuhkan ‘Rahman-rahman’ baru yang siap menyuarakan dan memperkenalkan Islam yang kontekstual, shalih li kulli zaman wa makan.
(by: Rahmatullah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *