Belajar tentang Konghucu dalam Sekolah Dialog Islam-Konghucu II

Purwokerto, Minggu 26 Maret 2017 Sekolah Dialog Islam-Khonghucu angkatan II dilaksanakan dengan cukup menyenangkan. Griya Gusdurian yang terletak di Banyumas, Purwokerto menjadi tuan rumah event menarik yang diselenggarakan oleh KAICIID (King Abdullah bin Abdulaziz International Centre Intereligious and Intercultural Dialogis) yang ada di Indonesia. Event yang diselenggarakan oleh KAICIID ini bekerjasama dengan Gusdurian Banyumas, GEMAKU (Gerakan Pemuda Khonghucu), MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indosnesia), JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) Banyumas, Peace Promotion Institut Pesantren Mathaliul Falah, Pati,dan juga HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Banyumas.

Sekolah Dialog Islam-Khonghucu angkatan ke II ini disambut baik dari pihak Gusdurian Banyumas ditambah lagi Sekolah Dialog ini juga mendapat dukungan penuh dari Ibu Alisa Wahid selaku korrdinator Gusdurian yang juga putri dari Alm Gus Dur. Bapak Yusuf Chumedi selaku Ketua Gusdurian Banyumas dalam sambutannya, selaku tuan rumah beliau menyampaikan bahwa Gusdurian sangat senang menjadi tuan rumah di Sekolah Dialog yang notabene sangat jarang adanya Dialog antara Islam-Khonghucu. Bapak Budi Rohadi selaku bagian dari MATAKIN beliau menyampaikan bahwasannya kegiatan ini sangat senang dengan adanya Sekolah Dialog Islam Khonghucu karena dengan kegiatan ini bisa menjembatani dan memberi ruang dialog untuk pihak Khonghucu khususnya. Karena Khonghucu adalah salah satu kelompok minoritas yang terkadang mendapat pandangan buruk atau sebelah mata dari orang-orang non Khonghucu.

Sekolah Dialog Islam-Khonghucu angkatan II resmi di pada Minggu 26 Maret lalu diikuti sekitar 35-an orang yang terdiri dari Mahasiswa/I yang berlatar belakang dari berbagai universitas, juga beberapa peserta dari komunitas Gusdurian dan Pemuda Jemaat Ahmadiyah Banyumas, didampingi oleh tiga fasilitator dari KFN; KAICIID Fellows Network, Muhammad Afdillah dari Universitas Sunan Ampel Surabaya, Kamilia Hamidah dari Institut Pesantren Mathali’ul Falah, Pati  dan Suhadi Cholil dari Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini juga mengedepankan interkultural kolaboratif dimana elemen budaya juga menjadi salah satu pendekatan dalam proses kegiatan SDIK, sehingga para peserta diajak belajar dasar-dasat pelajaran kaligrafi Mandarin yang dipandu langsung oleh tokoh senior MATAKIN bapak Usman Arifin  selaku Ketua badan usaha pendukung MATAKIN Pusat.

“Sekolah Dialog ini dilakukan untuk menempa mental dalam diri sendiri dan dengan berdialog dengan sesame, Serta belajar bagaimana pentingnya toleransi sebagai warga Indonesia yang majemuk untuk kemudian diamalkan dan ditularkan kepada orang lain, sebagai wujud pengalaman pancasila” inilah yang menjadi motivasi dari Muhammad Ihsanul Amin Siswa SMK Telkom Purwokerto yang juga salah satu peserta utusan dari Gusdurian Banyumas.

Secara umum, tujuan utama dari terselenggaranya acara ini adalah untuk membangun pemuda-pemuda agen perdamaian, yang dapat turut serta menjadi aktor yang dapat berpartisipasi aktif dalam mengelola perdamaian antar iman di komunitasnya masing-masing. (by: Desi F.L)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *