Dialog “A Common Word” YIPC dan Mahasiswa Indonesia di NUS Singapura

Dialog bersama mahasiswa dalam rangka World Interfaith Harmony Week (WIHW) 2017 kembali digelar. Pada 9 Februari 2017, Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia berkesempatan mengadakan dialog A Common Word (ACW). Kali ini, mahasiswa National University of Singapore (NUS) yang berasal dari Indonesia berani melakukan diskusi lintas-iman dalam tataran ACW. Tak hanya itu, mahasiswa yang hadir juga mencoba melakukan scriptural reasoning (SR).

Seluruh peserta dialog di salah satu ruang seminar NUS Kent Ridge berjumlah 29 orang. Selain peserta dari YIPC, mahasiswa NUS yang hadir mewakili Pelajar Indonesia NUS (PINUS) dan Indonesian Students’ Christian Fellowship (ISCF) yang berada dalam naungan VCF (Varsity Christian Fellowship), suatu organisasi resmi dalam administrasi NUS.

Seperti umum terjadi dalam dialog-dialog sepanjang agenda WIHW YIPC, pertemuan dimulai pukul 19.00 waktu Singapura dengan kesan kaku. Suasana mencair seiring perkenalan lebih dalam antarsesama peserta yang sengaja diminta duduk membaur. Materi yang cukup panjang disampaikan oleh beberapa fasilitator YIPC. Faiz (regional Surabaya) dan Jenny (regional Medan) masing-masing menyampaikan ACW mengenai loving God dari perspektif Islam dan Kristen. ACW mengenai loving neighbor perspektif Islam disampaikan Ela (regional Yogyakarta). Kevin Christian, peserta dari ISCF NUS, khusus menyampaikan perspektif Kristen dari loving neighbor.

Setelah presentasi dan dialog ACW berlangsung kira-kira satu jam, peserta diajak oleh moderator, Leini (regional Jawa Barat–Jakarta), memulai SR mengenai Nabi Musa, dalam topik “Encountering God”. SR berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Di sini, peserta Muslim dan Kristen saling berpendapat dalam lingkup persamaan dan perbedaan pada tuturan Al-Quran dan Taurat mengenai pengalaman Nabi Musa berjumpa dengan Tuhan.

Melalui dialog ACW, bahkan lebih dalam lagi pada SR, peserta secara keseluruhan sangat antusias, baik Muslim maupun Kristen. Malahan, SR terpaksa diakhiri karena batas waktu pinjam ruangan. Peserta di masing-masing kelompok tampak menikmati alur percakapan. Mereka saling membangun pengertian, mendengarkan perspektif lain, sekalipun bertentangan dengan pemahaman masing-masing pribadi.

Pertemuan hangat ini diakhiri pada 22.00 waktu Singapura dengan foto bersama. Sebagian peserta saling bertukar kontak sebelum dan setelah sesi foto, sementara yang lain sibuk berbincang ringan dengan teman-teman barunya. Salam perpisahan disampaikan seiring anggota YIPC dan sebagian mahasiswa Indonesia di NUS pulang menaiki bus dari area University Town NUS. (by: Lorenzo V.E. Fellycyano)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *