e-Newsletter Manifesto Edisi I – VII

Ini adalah buletin e-Newsletter Manifesto dari edisi perdana sampai edisi ke-7. Mari membaca dan menyebarkan nilai-nilai damai disekeliling kita.

EDISI I

KEMAJEMUKAN Yogyakarta terlahir atas tumpukan sejarah yang tak pernah berhenti sampai saat ini. Multikulturalisme kemudian menjadi representasi dari berbagai macam agama, suku, etnis, budaya, dan bahasa di bumi Mataram. Kondisi tersebut adalah fakta yang tidak bisa dibantah dalam ruang hidup bersama. Ini merupakan wujud karunia yang diberikan Tuhan yang sepatutnya kita rayakan bersama. Namun, yang terjadi kemudian Multikulturalisme dianggap sebagai sebuah ancaman. Kekerasan menjadi jalan akhir unjuk eksistensi. Kekerasan pun hadir melalui prasangka yang belum terkonfirmasi. Atas permasalahan tersebut, tema utama kali ini mencoba mengajak kita untuk mengingatkan atas serangkaian kasus intoleransi yang pernah terjadi. Sekaligus upaya deradikalisasi yang harus dilakukan secara progresif. Bila kemudian hari intoleransi masih terus bergulir. Disinilah perlu untuk meredefinisikan kembali Yogyakarta sebagai barometer kota toleran di Indonesia.

Cara download:

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik  popout

EDISI II

DALAM perkembangan zaman, tokoh-tokoh besar berpengaruh di belahan dunia adalah sebagaian dari mereka yang memiliki kegelisahan di masa muda memandang sebuah perubahan sosial dalam dunia aktivismenya. Dalam struktur sosial, pemuda memiliki porsi yang besar dalam perbaikan peradaban suatu bangsa. Dengan ciri khas yang ditampilkan mulai dari inovasi strategi, pemikiran progresif, hingga militansi gerakan dari respon gejala-gejala penindasan atas kemanusiaan. Dari sifat-sifat tersebut. Maka tidak berlebihan, bila seorang tokoh revolusi sekelas Tan Malaka mengatakan bahwa kekayaan terakhir seorang aktivis adalah idealisme. Yang notabene sebagian besar dimiliki oleh pemuda berjiwa kritis. Dari sepak terjang perjalanan peran pemuda. Pada edisi kali ini, di rubrik utama menawarkan sebuah narasi besar dalam melalui penyadaran kolektif tentang peran pemuda. Selain itu, dilengkapi dengan optimalisasi kapasitas setiap pemuda dalam tataran praktis. Sebuah langkah yang perlu untuk dikombinasikan guna menciptakan agen perdamaian di masa depan.

EDISI III

DEMI terciptanya masyarakat yang berkualitas, pendidikan adalah jalur utama yang harus diprioritaskan. Sehingga tidak berlebihan bila maju-mundurnya sebuah peradaban manusia di sebuah negara ditentukan oleh kualitas pendidikan yang bermutu, yang kemudian mencerminkan identitas dari bangsa yang bermartabat. Pendidikan sudah seharusnya lahir dari sebuah keteladanan yang baik. Keteladanan harus bermula dari kehadiran seorang sosok atau figur seperti guru dan orangtua sangatlah penting. Sehingga perkembangan anak atau peserta didik dapat tumbuh dengan baik. Maka, keteladanan figur tentunya tidak dimulai dengan peran instruktif yang otoriter. Namun, perlu upaya untuk mengajak partisipasi anak untuk berfikir dan berdialog tentang apa yang sedang dirasakan dan diinginkan. Artinya, hubungan yang mendidik dan yang dididik tidak hanya sebatas tugas. Tapi lebih kepada tanggung jawab untuk melahirkan generasi muda yang menjadi cikal bakal seorang pemimpin di masa mendatang.

EDISI IV

IMAN adalah dasar dari sebuah agama yang kemudian mendapatkan kedudukan tertinggi dalam sebuah keyakinan oleh masing-masing pemeluknya. Sudah sepatutnya iman melebihi identitas apapun yang melekat. Terlebih tidak ada hak untuk manusia mengintervensi iman sesamanya. Meskipun ia dalam proses pencarian. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan,“Asal kita percaya bahwa kita menjalankan sesuatu yang berguna, itu sudah cukup. Penilaian orang bisa berbeda-beda, yang saya takuti adalah penilaian Tuhan.” Identitas muncul dari pergerakan sosial antar individu dengan memadukan simbol interaksi untuk mempertegas identitas individu. Saat itulah disadari atau tidak  memantik timbulnya multiidentitas, hasil dari pergumulan sosial. Namun yang terjadi sering kali berkutat pada identitas individu untuk memperoleh dan menunjukan sebuah dominasi. Tanpa memandang ada kesamaan dalam identitas kolektif yaitu sebagai manusia, sekaligus warga negara suatu bangsa.

EDISI V

Manusia menangis sekalian mengiba kepada Tuhan ketika alam mulai murka dengan menunjukan gejala bencana baik skala kecil maupun besar yang tidak kunjung berhenti. Tanpa pernah menyadari saat alam mulai menggeliat terdapat sebuah sinyal alam untuk mengajak komunikasi kepada manusia agar memahami alam dengan menjaga lingkungan dalam kehidupan seharihari. Di saat bersamaan pula manusia semakin disibukan dengan urusan individualistik. Mengeksploitasi alam besar-besaran, tanpa memikirkan pembenahan setelah melakukannya untuk memuaskan syahwat kekayaan yang ditimbunnya. Ada semacam pemeo, alam akan ramah kepada manusia kalau manusia ramah kepada sang alam. Pemeo itu kemudian menjadi prasyarat yang menekankan kesadaran manusia kepada sesama makhluk ciptaan, maupun kepada alam beserta isinya dengan menihilkan kesadaran spiritual kepada manusia yang merasa masing-masing diantara sebagai umat beragama. Pada dasarnya setiap agama senantiasa mengajarkan untuk menghormati alam dengan memanfaatkannya sekaligus merawatnya. Ketika hal itu disepelekan, sudah sepatutnya bencana alam mengingatkan manusia untuk belajar dari pengalaman akan bencana yang pernah terjadi.

EDISI VI

Tahun demi tahun, agresi militer Israel di tanah Palestina tak kunjung berhenti melakukan ekspansi di Jalur Gaza yang dianggap sebagai benteng terakhir. Selain itu, beberapa tahun terakhir, gejolak Di Timur Tengah yang dipantik oleh ISIS yang kemudian cukup eksis dengan tindakan-tindakan yang ekstrem dan destruktif pun terus bergulir. Tidak ketinggalan, di Indonesia aksi kekerasan di Tolikara-Papua menuai berbagai kecaman. Sayangnya peristiwa-peristiwa di atas, tidak sedikit umat beragama menajamkan kebencian kepada agama-agama tertentu yang menjadi aktor intoleransi, tanpa melihat dimensi yang lain secara komprehensif. Atas kondisi tersebut, Ahmad Al-Juhayni, seorang intelektual muda Mesir jebolan dari Universitas Al-Azhar mengatakan, “lslam bukanlah Al-Qaeda atau Taliban, Kristen bukan Crusaders, dan Yahudi bukan Zionis. Ada perbedaan antara agama dan pemeluknya. Setiap orang mengamalkan agamanya sesuai pemahamannya dan kadang sesuai ambisinya.” Artinya, generalisasi dari justifikasi yang diarahkan kepada agama tertentu hendaknya tidak dilakukan secara serampangan. Di sisi lain, ekstrimisme dalam berbagai wujud merupakan sinyal meredupnya cinta dan kasih sayang pemeluk agama yang buta mata hatinya.

EDISI VII

Dalam kehidupan beragama, kitab suci menduduki posisi sentral dan strategis, yakni sebagai pedoman hidup. Tentu saja, sebagai pedoman hidup, dalam tindak-tanduknya setiap saat umat beragama akan selalu berdasarkan pada apa yang tertera dalam kitab suci. Di samping itu, kitab suci juga memuat superioritas agama yang dibawanya serta menjadi jalan keselamatan tertinggi. Dalam hal ini, tanpa terkecuali Al-Qur’an. Kitab suci Al-Qur’an tidak hadir dalam ruang kosong. Ia hadir dalam ruang dan waktu yang penuh dengan polemik sehingga tidak jarang kita dapat menemukan Al-Qur’an menggambarkan agama lain di luar Islam secara negatif atau bahkan mendiskreditkannya, terutama menyangkut agama Yahudi dan Kristen. Berangkat dari ruang yang berpolemik, Al-Qur’an lalu bersifat polemis terhadap agama lain, sehingga ayat-ayat polemik dalam Al-Qur’an inilah yang menjadi legalitas kelompok- kelompok tertentu dalam Islam untuk memusuhi agama lain. Di sinilah kemudian kita harus benar-benar memahami konteks polemik dari Al-Qur’an.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *