Peace News Edisi April 2017

Salam Peace Shalom!

Memaafkan dengan tepat. Pada edisi sebelumnya kita sudah membahas tentang mengenal konflik, konflik tanpa kekerasan dan juga bagaimana menyikapi kesalahan dengan meminta maaf. Nah pada edisi kali ini kita akan membahas tentang bagaimana memaafkan dengan tepat. Meinta maaf dan mamaafkan adalah satu paket dalam perbaikan hubungan pasca konflik yang terjadi. Sehingga kita  bisa katakan bahwa memaafkan merupakan sebuah langkah awal menuju perdamaian. Di balik pernyataan klise “tidak ada masalah”, tanpa disadari, justru sebenarnya sedang tersimpan masalah yang mungkin urung untuk diselesaikan sehingga suatu waktu hanya akan menjadi “bom waktu” konflik. Sebagaimana jamaknya, memaafkan bukan hal yang mudah, butuh proses panjang. Lebih jauh, memaafkan atau pengampunan merupakan bentuk ‘healing’ (pemulihan) atau rekonsiliasi awal bagi seseorang yang pernah merasa disakiti atau pun dilukai, sehingga luka atau sakit yang pernah dirasakan akibat kesalahan orang lain dapat dipulihkan. Tidak ada perdamaian tanpa proses rekonsiliasi.

Selain membahas tentang topik ini edisi kali ini akan mencoba menguraikan tema-tema teologis tentang Kitab Suci yang akan kita paparkan bersambung, dimulai dari Taurat, Kitab Suci Injil dan juga AL-Quran. Dalam edisi kali ini dan beberapa edisi kedepan pembahasan tentang Sejarah Kitab Suci, Keautentikan Kitab Suci dan Ayat-ayat yang sering dipolemikkan akan menghiasi Peace News. Selamat Membaca

Salam Peace Shalom!

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik popout

Keberagaman Budaya: Hilangkan Prasangka, Bangun Komunikasi

Keberagaman Budaya: Hilangkan Stereotip, Bangun Komunikasi

Keberagaman yang ada di Indonesia bukan sebuah bencana, tetapi sebuah potensi untuk membangun rasa persatuan dan kesatuan. Kita pasti sering mendengar perkataan seperti itu, baik dalam hubungan personal maupun antar kelompok, dimana ada tekad untuk menjalin kerjasama demi tujuan tertentu. Oleh karena sering terdengar bukan berarti kita menganggap itu sebuah lelucon sehingga selalu dilupakan, tetapi makna yang tersirat adalah adanya upaya tulus mendorong dan menghancurkan lapisan perbedaan selama ini.

Kita dapat mengambil contoh, ketika orang dari budaya lain menyimpulkan bahwa semua orang Batak itu keras kepala dan  mulut mereka yang super cerewet, mereka telah terlibat dalam stereotip. Ketika orang Nias menyimpulkan bahwa orang Aceh selalu menghabiskan banyak waktu mereka untuk menaati Qanun dan Syariah, padahal setelah keluar dari teritorial Hukum Aceh, mereka tak menaati peraturan itu lagi; mereka juga sedang melakukan stereotip. Ketika orang-orang mengatakan bahwa Muslim tidak punya waktu melakukan yang lain selain Shalat karena mereka shalat 5 kali sehari, mereka terlibat dalam stereotip. Walaupun ketiga contoh itu kelihatannya bodoh, namun hal tersebut telah sering diungkapkan. Contoh tersebut merupakan perwakilan sejumlah stereotip budaya yang digunakan orang ketika membicarakan kelompok yang lain.

Stereotipe (Prasangka) merupakan kumpulan asumsi yang di buat oleh orang di semua budaya terhadap karakteristik anggota kelompok  budaya lain. Kita ingin menggarisbawahi kata “Orang di Semua Budaya”, hal ini bersamaan pengertian bahwa setiap masyarakat memiliki stereotip mengenai anggota, etik, dan kelompok rasial dari masyarakat lain. Stereotip budaya terkenal karena sangat mudah dibuat. Ketika diulang beberapa kali, hal itu menjadi stenografi yang mewakili sekelompok orang. Prassangka menjadi masalah utama dalam membangun sebuah komunikasi antar mereka yang berbeda budaya, khususnya di Indonesia. Upaya dini untuk tindakan pencegahan mengurangi efek membahayakan stereotip ini, sejalan dengan misi kita sebagai Peacemaker adalah:

  • Generalisasi budaya harus dilihat sebagai taksiran, bukan hal yang mutlak dan ditelan mentah-mentah. Pengalaman personal kita sebagai agen pendamai mengajarkan bahwa, budaya itu adalah persoalan laten dan lahir dari dalam diri kita serta dikembangkan disekitar ranah budaya yang dianut. Tidak terkecuali, persepsi akan orang yang berbeda menjadi mudah berkembang. Disinilah kita dituntut untuk keluar sebentar menelisik kebenaran akan persepsi budaya orang lain.
  • Ketika kita membuat generalisasi budaya, hal tersebut harus berhubungan dengan nilai-nilai universalnya. Maksudnya, hal ini merupakan nilai dan perilaku yang terjadi secara teratur selama beberapa waktu, sehingga hal tersebut menjadi tanda dari anggota suatu kelompok budaya. Jika kita mengamati budaya dominan dalam suku Batak, kita pasti menemukan sedikit masalah dalam memperhatikan pentingnya bicara keras dalam setiap hal, mulai dari adatnya sampai lingkup keluarga. Dengan cara yang sama, kita melihat peranan Qanun dalam kehidupan berbudaya Aceh, dengan memerhatikan sejarah berdiri dan berlakunya peraturan itu. Hal benar dari dua inti nilai budaya yang digunakan dalam contoh ini adalah petunjuk berharga dalam melakukan generalisasi tentang perilaku.

Akhirnya kesimpulan dan pernyataan tentang budaya harus berkualitas, sehingga tidak tampil sebagai sebuah kebenaran mutlak. Ada baiknya frasa yang digunakan adalah “rata-rata”, “mungkin”, dan “cenderung” sebagai cara menghaluskan makna dari generealisasi yang ada. Penempatan ini memungkinkan kita berpikir dan berbicara tentang keberagaman budaya tanpa menunjukkan bahwa setiap anggota dari suatu budaya adalah sama persis. Karena budaya lahir sebagai pedoman hidup dan nilai sosial dalam bermasyarakat, tuntutan utama adalah menghargai keberagaman itu dan mengakui diri sebagai ciptaan yang sama dihadapan Tuhan. Keberagaman yang telah tercipta di nusantara ini mengingatkan kita untuk sebuah persatuan, menjunjung tinggi rasa toleransi dan menelusuri kebenaran dari setiap konstruksi sosial yang selama ini dianut sebagai generalisasi.

Dengan begitu akan hadir komunikasi lintas budaya yang harmonis dan sustainable. Dan diharapkan muncul keinginan untuk menjaga budaya bangsa dari segala intevensi yang dapat memecah belah.

By: ​Leonardo Sihura (YIPC Medan)

Dialog “A Common Word” YIPC dan Mahasiswa Indonesia di NUS Singapura

Dialog bersama mahasiswa dalam rangka World Interfaith Harmony Week (WIHW) 2017 kembali digelar. Pada 9 Februari 2017, Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia berkesempatan mengadakan dialog A Common Word (ACW). Kali ini, mahasiswa National University of Singapore (NUS) yang berasal dari Indonesia berani melakukan diskusi lintas-iman dalam tataran ACW. Tak hanya itu, mahasiswa yang hadir juga mencoba melakukan scriptural reasoning (SR).

Seluruh peserta dialog di salah satu ruang seminar NUS Kent Ridge berjumlah 29 orang. Selain peserta dari YIPC, mahasiswa NUS yang hadir mewakili Pelajar Indonesia NUS (PINUS) dan Indonesian Students’ Christian Fellowship (ISCF) yang berada dalam naungan VCF (Varsity Christian Fellowship), suatu organisasi resmi dalam administrasi NUS.

Seperti umum terjadi dalam dialog-dialog sepanjang agenda WIHW YIPC, pertemuan dimulai pukul 19.00 waktu Singapura dengan kesan kaku. Suasana mencair seiring perkenalan lebih dalam antarsesama peserta yang sengaja diminta duduk membaur. Materi yang cukup panjang disampaikan oleh beberapa fasilitator YIPC. Faiz (regional Surabaya) dan Jenny (regional Medan) masing-masing menyampaikan ACW mengenai loving God dari perspektif Islam dan Kristen. ACW mengenai loving neighbor perspektif Islam disampaikan Ela (regional Yogyakarta). Kevin Christian, peserta dari ISCF NUS, khusus menyampaikan perspektif Kristen dari loving neighbor.

Setelah presentasi dan dialog ACW berlangsung kira-kira satu jam, peserta diajak oleh moderator, Leini (regional Jawa Barat–Jakarta), memulai SR mengenai Nabi Musa, dalam topik “Encountering God”. SR berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil. Di sini, peserta Muslim dan Kristen saling berpendapat dalam lingkup persamaan dan perbedaan pada tuturan Al-Quran dan Taurat mengenai pengalaman Nabi Musa berjumpa dengan Tuhan.

Melalui dialog ACW, bahkan lebih dalam lagi pada SR, peserta secara keseluruhan sangat antusias, baik Muslim maupun Kristen. Malahan, SR terpaksa diakhiri karena batas waktu pinjam ruangan. Peserta di masing-masing kelompok tampak menikmati alur percakapan. Mereka saling membangun pengertian, mendengarkan perspektif lain, sekalipun bertentangan dengan pemahaman masing-masing pribadi.

Pertemuan hangat ini diakhiri pada 22.00 waktu Singapura dengan foto bersama. Sebagian peserta saling bertukar kontak sebelum dan setelah sesi foto, sementara yang lain sibuk berbincang ringan dengan teman-teman barunya. Salam perpisahan disampaikan seiring anggota YIPC dan sebagian mahasiswa Indonesia di NUS pulang menaiki bus dari area University Town NUS. (by: Lorenzo V.E. Fellycyano)

Belajar tentang Konghucu dalam Sekolah Dialog Islam-Konghucu II

Purwokerto, Minggu 26 Maret 2017 Sekolah Dialog Islam-Khonghucu angkatan II dilaksanakan dengan cukup menyenangkan. Griya Gusdurian yang terletak di Banyumas, Purwokerto menjadi tuan rumah event menarik yang diselenggarakan oleh KAICIID (King Abdullah bin Abdulaziz International Centre Intereligious and Intercultural Dialogis) yang ada di Indonesia. Event yang diselenggarakan oleh KAICIID ini bekerjasama dengan Gusdurian Banyumas, GEMAKU (Gerakan Pemuda Khonghucu), MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indosnesia), JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) Banyumas, Peace Promotion Institut Pesantren Mathaliul Falah, Pati,dan juga HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) cabang Banyumas.

Sekolah Dialog Islam-Khonghucu angkatan ke II ini disambut baik dari pihak Gusdurian Banyumas ditambah lagi Sekolah Dialog ini juga mendapat dukungan penuh dari Ibu Alisa Wahid selaku korrdinator Gusdurian yang juga putri dari Alm Gus Dur. Bapak Yusuf Chumedi selaku Ketua Gusdurian Banyumas dalam sambutannya, selaku tuan rumah beliau menyampaikan bahwa Gusdurian sangat senang menjadi tuan rumah di Sekolah Dialog yang notabene sangat jarang adanya Dialog antara Islam-Khonghucu. Bapak Budi Rohadi selaku bagian dari MATAKIN beliau menyampaikan bahwasannya kegiatan ini sangat senang dengan adanya Sekolah Dialog Islam Khonghucu karena dengan kegiatan ini bisa menjembatani dan memberi ruang dialog untuk pihak Khonghucu khususnya. Karena Khonghucu adalah salah satu kelompok minoritas yang terkadang mendapat pandangan buruk atau sebelah mata dari orang-orang non Khonghucu.

Sekolah Dialog Islam-Khonghucu angkatan II resmi di pada Minggu 26 Maret lalu diikuti sekitar 35-an orang yang terdiri dari Mahasiswa/I yang berlatar belakang dari berbagai universitas, juga beberapa peserta dari komunitas Gusdurian dan Pemuda Jemaat Ahmadiyah Banyumas, didampingi oleh tiga fasilitator dari KFN; KAICIID Fellows Network, Muhammad Afdillah dari Universitas Sunan Ampel Surabaya, Kamilia Hamidah dari Institut Pesantren Mathali’ul Falah, Pati  dan Suhadi Cholil dari Universitas Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kegiatan ini juga mengedepankan interkultural kolaboratif dimana elemen budaya juga menjadi salah satu pendekatan dalam proses kegiatan SDIK, sehingga para peserta diajak belajar dasar-dasat pelajaran kaligrafi Mandarin yang dipandu langsung oleh tokoh senior MATAKIN bapak Usman Arifin  selaku Ketua badan usaha pendukung MATAKIN Pusat.

“Sekolah Dialog ini dilakukan untuk menempa mental dalam diri sendiri dan dengan berdialog dengan sesame, Serta belajar bagaimana pentingnya toleransi sebagai warga Indonesia yang majemuk untuk kemudian diamalkan dan ditularkan kepada orang lain, sebagai wujud pengalaman pancasila” inilah yang menjadi motivasi dari Muhammad Ihsanul Amin Siswa SMK Telkom Purwokerto yang juga salah satu peserta utusan dari Gusdurian Banyumas.

Secara umum, tujuan utama dari terselenggaranya acara ini adalah untuk membangun pemuda-pemuda agen perdamaian, yang dapat turut serta menjadi aktor yang dapat berpartisipasi aktif dalam mengelola perdamaian antar iman di komunitasnya masing-masing. (by: Desi F.L)

Bedah Buku “Jurnalisme Keberagaman”

Bedah Buku ini dilakukan atas kerjasama Media Indonesia, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Universitas Atmajaya Yogyakarta dan Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) yang bertempat di Auditorim Kampus IV Universitas Atmajaya Yogyakarta. Ada lebih dari 100 peserta yang terdiri dari mahasiswa, jurnalis, dan aktivis penggiat sosial.

Usman Kansong, penulis buku ini sekaligus Direktur Pemberitaan Media Indonesia, turut hadir memberikan wacana yang dikembangkannya dalam buku ini. Menurut Usman keberagaman itu artinya di dalam keberagaman ada perbedaaan. Jadi penekanan adalah akan pemahaman akan realitas perbedaan. Dalam hal ini Usman menegaskan bahwa pers punya peran dalam mengkondisikan keberagaman ini, namun harus jujur saat ini pers masih gagal dalam hal ini. Contohnya masih ada pers yang masih sering memberikan label kepada sekelompok orang sesat, bahkan pers juga masih dianggap enggan memberikan berita yang menditail dalam hal-hal yang berbau konflik SARA. Ada 4 prinsip dalam jurnalisme keberagaman menurut Usman, yakni Fokus Pada keberagaman, mengedepankan Hak Asasi Manusia (HAM), Ada keberpihakan dalam membela korban yang biasanya adalah kelompok-kelompok minoritas, serta punya presfektif tentang gender. Dalam penutupnya Usman menegaskan bahwa jangan sampai orang diperlakukan berbeda karena identitasnya.

Lukas Ispandriarno, dosen  Universitas Atmajaya Yogyakarta yang turut menjadi penanggap mengapresiasi buku ini sebagai karya intelektual yang sangat sesuai dengan karya akademis dan layal menjadi disertasi. Temuan-temuan media-media yang tidak berpresfektif keberagaman dipaparkan dipaparkan dengan beliau. Dalam hal ini Lukas memberikan masukan dalam buku ini untuk memaparkan cara-cara menerobos dominasi pihak yang merasa mayoritas. Karena pihak inilah yang relatif sering menjadi pelaku dalam kasus-kasus SARA.

Selanjutnya Widiarsi Agustina, Ka Biro Tempo DIY-Jateng, sebagai penanggap kedua mengawali tanggapannya dengan penekanan akan pentingnya independensi jurnalis sebagai point utama dalam membicarakan jurnalisme keberagaman. Menuurt Widiarsi, seorang jurnalis harus menentukan terlebih dahulu apakah jurnalis itu pekerjaan atau menekuni profesi. Karena kalau pekerja akan terjebak dengan sistem produksi dan oplah. Yang mirisnya menurut beliau mayoritas jurnalis saat ini lebih melihat trand di media sosial terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan. Seorang jurnalis yang taat pada fakta, displin dan punya nyali pada verifikasi pasti tidak akan ikut-ikutan menyebarkan hoax seperti yang terjadi saat ini.

Penanggap terakhir, Agnes Dwi Rusjiyati yang mewakili ANBTI, memaparkan beberpa temuannya dan tim di lapangan, khususnya di daerah DIY. Beberapa media cenderung memicu pertambahan masalah karena kurangnya (bahakan tidak adanya) verifikasi. Akibatnya korban mejadi semakin tersudutkan dan di bahkan media ikut mensesatkan. Oleh karena itu tidak heran jika banyak korban takut terbuka dengan media, karena merasa bisa akan semakin dirugikan. Untuk itu ANBTI mengajak media-media untuk bersama-sama memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat dan turut berpihak kepada korban-korban tindak intolransi.

Peran jurnalis tentu sangat penting dalam menyampaikan berita yang mendidik kepada masyarakat, karena itu sangat dipandang perlu agar para jurnalis benar-benar memahami tentang keberagaman khususnya yang menyangkut tentang perbedaan agama, suku dan gender. (by: RnB)

Belajar Islam dari Fazlur Rahman

Fazlur Rahman, nama yang fenomenal di kalangan akademisi dan studi keislaman di seantero penjuru dunia. Jangan berbicara kajian Islam kontemporer kalau belum menyentuh pemikiran Fazlur Rahman. Di Indonesia, salah satu tokoh yang menimba ilmu langsung dari Fazlur Rahman adalah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, atau lebih akrab disapa Buya Syafii.
Belum lama ini, tepat tanggal 23 Maret kemarin, diselenggarakan bedah buku ‘Islam’ Fazlur Rahman dengan pembedah utama Buya Syafii di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga. Sungguh, rasanya tepat sekali mengkaji buku tersebut dalam situasi Indonesia saat ini. Meski buku ini terhitung buku yang cukup tua, tetapi, spirit dan pesannya masih hangat untuk diaplikasikan saat ini.
Betapa tidak? Di saat orang-orang ramai memperbincangkan aksi bela Islam, aksi bela al-Quran, dll. Kita luput pada satu pertanyaan mendasar, Islam seperti apa yang kita bela? Tepat sekali, dalam buku ‘Islam’, Fazlur Rahman memaparkan bagaimana perkembangan Islam mulai dari awal munculnya di jazirah Arab hingga berkembang ke berbagai pelosok dunia. Sampai disini, sebenarnya kita belajar bahwa pemahaman Islam itu tidak tunggal. Lantas, Islam mana yang kita bela?
Belajar dan membaca buku ‘Islam’ membuatku membuka mata, bahwa ada hal-hal baru yang selama ini belum banyak disentuh dalam tataran praktis. Rahman menegaskan bahwa al-Quran itu merupakan kitab yang berisi pesan moral keagamaan, bukan dokumen hukum. Disini kita belajar, bahwa sebenarnya spirit awal kemunculan Islam adalah spirit moral. Nabi Muhammad pun menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak (moral) manusia. Bukan berarti hukum itu tidak penting, tetapi sejatinya kajian hukum itu tidak lepas dari prinsip-prinsip moral. Contohnya, praktek poligami yang sering dijadikan praktek pernikahan sebagian orang. Kita masih berdebat seputar hukum, tetapi seringkali abai terhadap pesan moral ayat-ayat yang berbicara tentang poligami.
Sejatinya, pesan moral inilah yang menjadi spirit keberagamaan. Pesan-pesan keadilan, perdamaian, dan kasih sayang harus menjadi basis dalam beribadah dan bermuamalah. Bahkan, berlaku adil pun diwajibkan terhadap orang yang kita benci sekalipun.
Sayangnya, saat ini pesan-pesan moral keagamaan tersebut tenggelam dalam arus kebencian oleh oknum pemuka-pemuka agama. Disinilah pesan buya Syafii untuk menyuarakan kebenaran patut diapresiasi dan ditiru. Menyampaikan pesan-pesan moral keagamaan, meski itu dianggap anti mainstream atau kontroversi, harus terus disuarakan. Toh, di masa awal dakwah Nabi Muhammad, beliau juga dianggap kontroversi oleh masyarakat Arab.
Sampai disini, sebenarnya bukan masalah kontroversi atau tidak yang perlu dikembangkan. Tetapi, kewajiban kita adalah menyuarakan pesan-pesan moral sesuai dengan hati nurani kita, meski hal tersebut dianggap kontroversi. Dan pada akhirnya, bangsa Indonesia membutuhkan ‘Rahman-rahman’ baru yang siap menyuarakan dan memperkenalkan Islam yang kontekstual, shalih li kulli zaman wa makan.
(by: Rahmatullah)

Dialog A Common Word (ACW) dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Malaysia

Dalam WIHW di Malysia, YIPC berkesempatan untuk bertemu dengan mahasiswa-mahasiwi yang berasal dari tanah air Indonesia. Mereka menyebut diri sebagai Persatuan Pelajar Indonseia (PPI) Malaysia. Ada 7 anggota PPI dan 12 member YIPC yang mengikuti acara ini. Acara ini diisi dengan dialog ACW dengan pembahas dari perwakilan YIPC dan PPIM. Terdapat dua sesi dalam dialog, yaitu pemaparan Loving God dari perspektif Muslim dan Kristen, dan Loving Neighbour dari perspektif Muslim dan Kristen. Pembahas Loving God dari perspektif Muslim adalah Mas Robby dari PPIM, dan Loving Neighbour dari perspektif Muslim adalah Anisa. Sedangkan dari perspektif Kristen dipaparkan oleh Jenny.
Selama acara, terjadi dialog yang cukup hangat tentang pandangan Muslim dan Kristen tentang mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Selain itu, sempat terjadi dialog tentang konsep ketuhanan Isa al-Masih yang menjadi inti kekristenan. Meski demikian, dialog dapat berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan sesi poto bersama.

REFLEKSI

Dialog merupakan sarana yang efektif untuk memecahkan prasangka. Selama ini, banyak prasangka-prasangka yang tertanam sejak kecil, tetapi, tidak terklarifikasi. Dialog merupakan ajang untuk mengklarifikasi prasangka tanpa harus ada ketakutan atau intimidasi.

Selain itu, berdialog dengan PPIM memberikan pelajaran tentang konteks kehidupan di Malaysia. Di satu sisi, sebagai seorang pelajar yang belajar di negeri ‘orang’, maka adaptasi harus dilakukan. Tetapi, di sisi lain, rasa kecintaan dan kebanggan terhadap NKRI tetap harus tertanam di setiap jiwa pelajar Indonesia.

(By: Rahmat, Ed:RnB)

CPHM Malaysia: Wadah umat kristiani untuk berdialog dengan umat agama lain

Dalam rangka WIHW 2017 YIPC berkesempatan mengunjungi Malaysia dan Singapura. Salah satu kegiatannya adalah bertemu dan berdialog dengan Christian for Peace and Harmony in Malaysia (CPHM). CPHM berdiri pada tahun 2015. Jason, salah satu pengurus CPHM, menyambut kedatangan anggota YIPC Indonesia dan sekaligus memperkenalkan CPHM, latar belakang terbentuknya, tujuan dibentuk, kegiatan yang dilakukan, dan bahkan memberikan klarifikasi mengenai beberapa isu-isu agama yang tersebar di media sosial.

Malaysia merupakan sebuah negara yang juga beragam, baik suku dan agama yang merupakan sebuah keniscayaan namun juga sebuah tantangan yang dapat menyebabkan konflik dan perpecahan. CPHM lahir dengan latar belakang tersebut, terdapat beberapa kejadian intoleran kecil yang disebabkan karena misunderstanding dan kurang komunikasi dalam perbedaan suku dan agama. Oleh karena itu, CPHM dibentuk sebagai wadah bagi umat Kristen yang ingin menjalin hubungan damai dan saling berkomunikasi dengan kelompok lintas iman. CPHM mengajak para pemimpin agama untuk bekerja sama melakukan pencegahan konflik antar agama untuk menjaga persatuan di Malaysia. Pernah CPHM melakukan pertemuan interfaith akbar di Malaysia yang dihadiri 1.200 orang yang berasal dari lebih 300 gereja di Malaysia, para menteri, organisasi non pemerintah, dan beberapa organisasi muslim seperti Muslim Youth Movement of Malaysia (ABIM) dan Perkasa.

Beberapa kegiatan yang telah dilakukan CPHM adalah:

  1. Mengadakan makan malam bersama dengan para pemimpin muslim pada saat open house
  2. Saling mengundang makan malam pada saat hari besar natal dan idul fitri
  3. Melakukan kegiatan amal kepada para pengungsi rohingia muslim
  4. Melakukan kegiatan bersama anak muda dan memainkan sebuah game scenario yang saling berganti peran, sehingga masing-masing peserta bisa merasakan langsung apa yang dirasakan oleh penganut agama lainnya.
  5. Melakukan seminar pertemuan pemimpin para pemimpin agama-agama di Malaysia dan dihadiri oleh perdana mentri Malaysia.

Kemudian CPHM juga berbagi tentang isu-isu yang tersebar di media sosial mengenai pelarangan penggunaan Allah oleh umat Kristen di Malaysia oleh umat muslim. Pak Jason memberikan klarifikasi bahwa konflik yang terjadi tidak separah yang diberitakan di media social. Di Malaysia penduduk yang beragama Kristen mayoritas adalah suku Chinese dan India, kedua suku ini tidak menggunakan Alkitab dalam bahasa Melayu melainkan Inggis, China, dan Tamil. Hanya sebagian kecil umat Kristen yang berasal dari suku Orang Asli dan tidak ada masalah dengan mereka.

Akan tetapi memang hubungan antar suku dan agama di Malaysia tidak dalam, melakukan dialog interfaith masih sangat tabu dan tidak nyaman. Hal inilah yang sedang dibangun oleh CPHM bersama dengan para pemimpin agama lainnya di Malaysia. (by:Jenni, ed:RnB)

 

English PeaceNews Seventh Edition – March 2017

peacenews eng maret

Money Can’t Buy Happiness

 

If I had a chance to interview some rich people, I would ask this question: “Are you happy?”

Their answers may vary. Some of them will state that they live happily, but it is possible if the others will have fair answer stating that they are actually not happy enough even though they have so much money, luxurious cars, and very big houses. That’s because happiness can not be measured by property. In other words, we can say “money can’t buy happiness.” Conversely, maybe not all poor people will suffer. Although they have to work hard and gain a little money, some of them will feel happy, and will no complain about it. Interestingly, many poor people will be grateful for sustenance they obtained.

Therefore, what makes our life either happy or suffer is not money and material possessions, but rather an open mind and gratitude to God. Happiness is not determined by wealth or poverty. We will be happy if we accept all of what God has given, without complaining and comparing us with other people.

More importantly, wealth or poverty does not determine the value of a human, especially in God’s sight. The value of human is absolutely determined by his or her actions. Being rich or poor is a combination of hard work, opportunity, and –of course—the  wisdom of God. We must treat everyone with the same respect and we have to be careful on the temptations, such as overbearing and greedy, we face.

So, if you were born in a wealthy family, or if you be a rich man in the future, please do not insult the poor. Likewise, if you are not rich enough, please avoid to envy the rich. Arrogant, abusive, greedy, hate and envy are the characters that will reduce and eliminate our happiness

 

To Download:

  1. Put the cursor on the right top corner of the newsletter frame.
  2. Clik popout

PeaceNews Edisi Maret 2017

Salam peace shalom!

Salam Peace Shalom!

Memasuki bulan Maret, kita bersyukur dengan kondisi bangsa kita yang tetap kondusif setelah setelah pelaksanaan pesta demokrasi serentak di beberapa daerah di tanah air. Seperti yang kita tahu bersama, belakangan ini kita seringkali dihadapkan dengan derasnya arus informasi dari media sosial yang menimbulkan keributan serta perpecahan publik. Banyaknya hoaks yang  berseliweran membuat masyarakat seringkali mudah menelan informasi secara instan tanpa berupaya menelisik secara utuh.

Polarisasi yang berkembang di masyarakat sebagai dampak pilkada serentak kemarin kini mulai mereda, namun masih meninggalkan jejasnya. Dengan bergulirnya hasil pilkada di ibukota yang mengantarkan pada putaran kedua, bisa dipastikan bahwa terjangan informasi serta kegaduhan dari media sosial masih akan terus berlanjut. Hal ini membutuhkan usaha nyata dari para peacemakers untuk bisa merajut kembali kebhinekaan yang terkoyak akibat situasi politik di negeri kita yang tercinta ini.

YIPC hadir sebagai salah satu komunitas yang diharapkan juga bisa menjadi solusi buat masalah ini. Salah satu program yang dilakukan YIPC adalah ikut serta memperingati Minggu Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia (WIHW) 2017 yang diadakan pada minggu pertama Februari lalu. YIPC mengadakan berbagai kegiatan di berbagai regional di Indonesia, seperti Medan, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya dalam rangka menjalin dialog dan pesaudaraan di tengah-tengah keberagaman.

Terhitung tanggal 1 sampai 11 Februari, YIPC juga melakukan kunjungan ke dua negara tetangga kita yakni Malaysia dan Singapura.Dengan mengusung tema “Mencintai Tuhan dan Mencintai Sesama” berdasarkan gerakan A Common Word, YIPC melakukan dialog dengan beberapa kelompok mahasiswa dan organisasi serta mengunjungi beberapa kelompok agama, khususnya yang jarang atau tidak ditemui di Indonesia. Melalui kegiatan ini, YIPC belajar mengenai situasi keberagaman di kedua negara, serta usaha-usaha perdamaian apa yang dilakukan dalam rangka memelihara persatuan di tengah keberagaman yang ada. YIPC juga mempromosikan cinta kasih, saling menghargai dan saling menghormati sesama manusia terlepas apapun yang menjadi keyakinannya dan dialog sebagai cara yang efektif untuk mencapai mutual understanding dan mutual respect antar sesama.

Peran para peacemakers untuk dapat melakukan upaya-upaya perdamaian yang bersifat dialogis sungguh sangat penting dan dinantikan oleh bangsa ini, agar kita dapat membina dan merajut kebhinekaan kita sebagai bangsa Indonesia serta bersatu mewujudkan Indonesia damai. Maka dari itu, kita perlu saling bergandengan tangan dan mengajak lebih banyak lagi pemuda untuk ikut serta terlibat dan ambil bagian di dalamnya. Salam Peace Shalom!

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik popout