English PeaceNews Sixth Edition

Salam peace shalom!

We thank God for the World Interfaith Harmony Week 2017 that have been done in the first two weeks of February. YIPC team went to Kuala Lumpur and Singapore from 1 to 11 February meeting and having dialogue with some students, some organizations, and visiting some religious communities. Under the theme of “Loving God and Loving Neighbor”, which have been promoted by A Common Word movement, YIPC was promoting love, tolerance, and respect to every human being regardless their beliefs or faiths. The practice religious tolerance and respect sometimes is not as easy as the concept, especially when religion is closely connected with power. Therefore to promote social and political pluralism in the midst of religious exclusivism is very important (Volf, 2015). Volf in Flourishing: Why We Need Religion in Globalized World, summarizes the argument for this concept of social/ political pluralism into four points:

  • Because there is one God, all people are related to that one God on equal terms.
  • The central command of that one God is to love neighbors – to treat others as we would like them to treat us, as expressed in the Golden Rule.
  • We cannot claim any rights for ourselves and our group that we are not willing to give to others.
  • Whether as a stance of the heart or as outward practice, religion cannot be coerced.

 

In the practice of political pluralism, personally I honor Singapore in how to manage its religious harmony in diversity. As practiced by many democratic states, Singapore also takes separation of religion and state. In Singapore religions and religious communities are respected equally, regardless majority and minority issue. Interestingly, in such a lively religious life in Singapore, there are 18% of Singaporeans do not identify themselves with any religious communities, and identify themselves as the humanist. This is exactly in line what noted by Volf in the fourth point: “whether as a stance of the heart or as outward practice, religion cannot be coerced”. Volf points out that faith is a free act, a coerced faith is not faith at all. This is a challenge for those who have strong believe in religion.

Other than learning from each other’s religious life, I believe the connections between the youth in the region can bring something great in the future, both in religious life as well as in other aspects of life. YIPC foresees that this international or regional network and connection has to be built in this globalized world that we believe religion become one of central issues. For that reason in 2017, YIPC also becomes part of two global network: United Network of Young Peacebuilder (www.unoy.org) and MasterPeace (www.masterpeace.org). In July 2017, God willing, YIPC will hold its second International Peace Camp. And for World Interfaith Harmony Week 2018 we hope we can work with the network in other countries. We hope more youth will be actively involved in religious peacebuilding in more countries all around the world. We do one step at the time, as God leads us. Salam peace shalom!

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik popout

Penerimaan Tulisan dalam buku bunga Serampai 5 tahun YIPC

Salam Peace Shalom,

Puji Syukur kehadirat Allah sang pencipta yang telah meridhoi gerakan perdamaian yang kita lakukan sehingga sampai tahun ini kita akan berumur 5 tahun. Sungguh berkat pertolongan dariNya kita dimampukan untuk terus berproses di dalam jalan kebenaran dan perdamaian.

Sahabat YIPC dimanapun berada, umur 5 tahun memang masih sangat muda, kalau diibaratkan seperti umur manusia, kita masih dalam umur hampir melewati balita dan masuk umur sekolah. Namun meski masih sangat singkat kita bersyukur karena terus diberikan kesempatan untuk berkarya dan menginspirasi banyak orang melalui peace camp dan juga kegiatan-kegiatan kita lainnya. Sebagai gerakan Interfaith peacemaker kita memiliki keunikan tersendiri dengan gerakan-gerakan yang sejenis lainnya. Keunikan ini perlu kita jaga sekaligus kita terus berjejaring dengan banyak komunitas dan gerakan lainnya di kampus maupun di masyarakat sekitar. Salah satu keunikan yang kita miliki adalah Nilai-nilai perdamaian dan dialog lintas iman yang bagaikan dua sisi mata uang. Nilai-nilai perdamaian yang kita kembangkan berasal dari nilai-nilai luhur yang kita pelajari dari Kitab Suci, demikian juga interfaith dialog yang kita praktekkan dasar utamanya dialog dengan prinsip-prinsip dasar perdamaian yang juga kita pelajari.

Disaat banyak orang yang mempraktekkan dialog dengan debat kusir dan dilain pihak banyak orang yang merasa tidak perlu membicarakan nilai-nilai agama dalam aktivitas perdamaian, YIPC hadir mengkombinasi keduanya menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, menurut hemat kami sudah saatnya kita mendokumentasikan keunikan kita ini dalam betuk buku yang nantinya dapat menjadi bahan bacaan alternatif dalam usaha-usaha perwujudan perdamaian di Indonesia bahkan dunia.

Untuk mewujudkan rencana ini, kami di jogja sudah membentuk panitia kecil yang berusaha mensukseskan rencana ini. Namun meski panitia utama ada di jogja (demi keefisienan) kami merencanakan bahwa buku bunga serampai ini adalah hasil karya YIPC di semua kota di indoensia. Dalam rencana awal kami setiap regional yang ada dapat mengarahkan 4-5 member untuk menulis dalam buku ini, sehingga minimal buku ini akan berisi 16-20 tulisan yang akan dibagi dalam beberapa kategori.

 

 

Tujuan

  1. Untuk mensosialisasikan gerakan dan keunikan YIPC dalam bentuk buku kepada semua pembaca di Indonesia.
  2. Untuk merangsang minat menulis anggota YIPC dalam tema-tema perdamaian dan interfaith dialog.
  3. Sebagai hadiah ulang tahun ke5 kepada seluruh anggota YIPC dan juga stimulus untuk berkarya yang lebih luas dikemudian hari

 

Rancangan Awal Buku

Seperti judulnya sebagai buku bunga serampai yang terdiri dari tulisan-tulisan dari beberapa orang, direncanakan ada 20 penulis untuk buku ini. Adapun pembagian topiknya adalah sebagai berikut:

  1. Testimony atau Refleksi Pribadi dalam bentuk opini. Berisikan testimony para member YIPC tentang perubahan yang dialami sejak bergabung dengan YIPC. Harapannya dibuat seperti menulis opini supaya lebih menarik.
  2. Kajian non-teologis (sosiologis, budaya, ekonomi, hukum, sains, kesehatan, pertahana dan keamanan, HAM, dll) atas Gerakan Interfaith Peacemaker
  3. Kajian dialog teologis khususnya Islam dan Kristen. Untuk bagian ini akan dibagi menjadi dua bagian:
  4. Kajian agama sendiri. (cth: Seorang krsiten membahas isu tentang kekristenan yang berhubungan dengan perdamaian atau hubungan dengan yang berbeda, demikian juga dengan yang kajian Islam).
  5. Kajian lintas agama (maksudnya: seorang Islam akan membahas tentang isu dalam kekristenan dan juga demikian sebaliknya).

 

Kriteria Penulisan

  1. Testiomony/ Refleksi dalam bentuk opini berupa pengalama atau refleksi tentang perjumpaan dengan yang berbeda (Islam dan Kristen) di kegiatan-kegiatan YIPC (Peace Camp, SR, WIHW, Peace Day, dll). Ditulis dengan font times new roman, 12, spasi 1,5. Panjang tulisan 2-5 halam A4.
  2.  Kajian non-teologis (sosiologis, budaya, ekonomi, hukum, sains, kesehatan, pertahana dan keamanan, HAM, dll) atas Gerakan Interfaith Peacemaker. Kajian ini bisa disesuaikan minat/ketertarikan para penulis namun fokus utamanya adalah gerakan interfaith peacemaker. Ditulis dengan font times new roman, 12, spasi 1,5. Panjang tulisan 4-10 halaman A4.
  3. Kajian teologis Islam dan Kristen. Berupa tulisan tentang tema-tema teologis yang sudah pernah di bahas di YIPC dan juga isu-isu yang berkembang dan kontemporer. Ditulis dengan font times new roman, 12, spasi 1,5. Panjang tulisan 4-10 halaman A4.

 

Time Line

  1. 1-7 Maret 2017: Pengumuman dan koordinasi dari setiap regional
  2. 1 – 31 Maret 2017: proses penulisan dan pengumpulan tulisan ke email redaksi (milad5@gmail.com ) dengan disertakan biodata singkat penulis.
  3. 1 – 14 April 2017: Proses seleksi kelayakan tulisan
  4. 15 – 30 April 2017: revisi (jika ada) tulisan yang diterima
  5. 1-31 Mei 2017: editing oleh redaksi dan tim panitia
  6. 1-30 Juni 2017: layout buku
  7. 12 July: lounching buku dalam bentuk e-book.

 

Tim Panitia (Redaksi)

Tim Perancang: Riston Batuara, Ahmad Shalahuddhin M, Rahmatullah, Kunny

Layouter: Ibnu Ghulam Tufail

 

Penutup

Demikian TOR ini kami buat, besar harapannya rencana ini dapat terealisasi dengan baik dan menjadi karya kita bersama. Semoga Allah yang maha kasih memberkati rencana ini sehingga akhirnya dapat menjadi berkah bagi banyak orang.

 

Shalom Peace Salam,

ttd

Tim Panitia

 

Narahubung: Rahmat (WA. 0821.3524.0900)

Email: yipc.milad5@gmail.com

Pendaftaran Student Interfaith Peace Camp (SIPC) Mei 2017

 

Keberagaman suku, kaum dan agama di Indonesia adalah sesuatu yang patut disyukuri.
Namun keberagaman ini juga menjadi potensi konflik horisontal, yang tidak jarang disertai dengan tindak kekerasan.
Apakah yang dapat dilakukan oleh kita para mahasiswa? Terpanggilkah Anda untuk menjadi agen perdamaian? Bagaimanakah Anda menyebarkan nilai-nilai perdamaian sesuai ajaran Kitab Suci? Bagaimanakah Anda dapat memahami dan menghargai iman dari umat lain?

Mari ikuti Student Interfaith Peace Camp (SIPC) yang dirancang khusus untuk para mahasiswa!

“Building Peace Generation
Through Young Peacemakers”

Siapa Penyelenggaranya?
Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC)
(www.yipci.org)

 

Apa Syarat Pesertanya?
– Mahasiswa D3/S1 (aktif)
– Muslim dan Kristiani
– max. 30 orang

 

Fasilitas apa yang didapatkan Peserta?
– Akomodasi 3 hari 2 malam
– Konsumsi selama acara
– T-Shirt
– Pin
– Sertifikat
– Bonus Gratis iuran anggota YIPC selama 3 bulan

 

Kapan dan Di mana?

  • Medan: 5-7 Mei
  • Jawa Timur (Surabaya Malang Madura): 11-13 Mei
  • Jogja: 11-13 Mei
  • Jakarta: 12-14 Mei
  • Bandung & Jakarta: 26-28 Mei

 

Berapa Biayanya?
Pendaftaran & Pembayaran sampai 14 April 2017:

  • Medan: Rp 250.000
  • Jogja: Rp 250.000
  • Jatim: Rp 250.000
  • Jakarta: Rp 300.000
  • Bandung: Rp 275.000

 

Anda akan mendapat email dari Panitia bila Anda lolos seleksi, untuk proses pembayaran.
Daftar peserta final akan diumumkan dalam website YIPC: www.yipci.org

KLIK untuk DAFTAR

 

PeaceNews Edisi 4 Februari 2017

Salam Peace Shalom

Sejak 2010 PBB menyepakati tanggal 1-7 Februari sebagai peringatan World Interfaith Harmony Week (WIHW). Pada Minggu pertama bulan Februari ini, berbagai komunitas lintas iman interfaith dianjurkan untuk mempertunjukkan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan antar umat beragama kepada seluruh masyarakat dunia. Berdasarkan dua dasar fundamental yang dimiliki agama Islam dan Kristiani yaitu Loving God dan Loving Neighbour, WIHW memiliki harapan terciptanya kesadaran masyarakat bahwa dua agama besar ini memiliki kekuatan super power untuk menjalin kerjasama yang baik dibandingkan hanya saling berselisih.

Adalah YIPC yang turut menyemarakkan kegiatan WIHW sejak tahun 2014 silam. Mereka tersebar di berbagai kota-kota besar seperti Medan, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Selain itu, 14 anggota YIPC dari berbagai regional akan menjadi ambassador perdamaian yang akan diberangkatkan ke Malaysia dan Singapura. Mereka akan berdialog dengan mahasiswa yang ada di sana; memperkenalkan A Common Word, sebuah dokumen tentang dua dasar nilai yang dipercaya oleh Islam dan Kristen; dan mengunjungi berbagai tempat ibadah yang tidak ada di Indonesia. Tujuannya ialah untuk mengajak para pemuda mancanegara supaya dapat mengambil peran menjaga keharmonisan antar umat beragama. Dan salah satu cara untuk menjaga keharmonisan kehidupan beragama adalah dengan memahami bagaimana cara menghadapi konflik dan upaya penyelesaikannya. Karena sejatinya konflik adalah sesuatu hal yang sunatullah guna mendewasakan kehidupan manusia, maka sudah seharusnya dihadapi dengan tanpa kekerasan, berdialog misalnya. Untuk itu, edisi Peacenews kali ini adalah mengenai upaya penyelesaian konflik tanpa kekerasan.

Saya ucapkan selamat membaca dan selamat memperingati World Interfaith Harmony Week. Mari saling bahu membahu menjaga keharmonisan kehidupan beragama walaupun hanya dengan melakukan upaya kecil. Karena upaya tersebut akan menjadi besar jika dilakukan terus menerus dan tentu juga akan memberikan sumbangsih bagi terwujudnya keharmonisan antar umat beragama di dunia.

 

 

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik  popout

English PeaceNews Fifth Edition

Salam Peace Shalom

We are in the beginning of 2017! We enter this year with many hopes for a better year. There were a lot of things happened in 2016 that we have to be grateful for. One of them was the growing initiatives of peace among the young generation. That is why we still have hope for the future instead of the growing numbers of young people that got involved in terrorism and religious extremism.

Jonathan Sacks, the Chief Rabbi of England, says about the significance of young people for peace building: “The message of peace really has to speak to young people and we have to use the same social networking, the same technology as the extremists and we’ve got to do it as well and better than they do.” The same message also given by Susan Hayward from the US Institute of Peace (USIP), “Women and youth are important shapers of religious narratives and motivations that support violence and peace. Youth is particularly important, youth must also be mainstreamed into religious peacebuilding initiatives.”

We believe that God of Peace will enable us to grow the initiative in our respective countries and even to the whole world. The year 2017 should be a year of youth movement for peace if we do not want to be youth movement for violence and extremism. It is a great challenge for us. YIPC in this year continue to be involved in some international peace movement such as World Interfaith Harmony Week February 2017 and International Day of Peace September 2017 as well as organizing the second International Peace Camp in July 2017. YIPC in partnership with MasterPeace International will have some projects in Indonesia to get the young people involve in peacebuilding initiatives.

Next month a team of 14 youth of YIPC Indonesia will be going to Kuala Lumpur on 1-4 Feb and to Singapore on 5-11 Feb to have some dialogues and visitations to the religious communities in both cities. This is the opportunity to learn more about religious diversity since we will visit some religious communities that hardly found in Indonesia, as well as to spread the peace values and A Common Word message to the young people in both cities.

“Love of God and Love of Neighbors” are two sides of a coin that written in both Holy Books but many people are not aware about it. Therefore religious conflicts and violence many times still take place. As Mahmoud Ayoub says, “The main obstacle to true Christian-Muslim dialogue on both sides is, I believe, their unwillingness to truly admit that God’s love and providence extend equally to all human beings, regardless of religious identity.”

Once again, let us hope and pray that all the peacebuilding initiatives will give some significant impact to the world. And many young people, including us, to be ready to be peacemakers wherever God calls us.

Praise the LORD!

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik

PeaceNews Edisi 3 Januari 2017

Salam Peace Shalom

Bagaimana kondisi dunia saat ini, atau, lebih khususnya lagi bagaimana kondisi pemberitaan di tanah air? Di tahun 2016 ini memang telah begitu banyak peristiwa “viral”. Ada yang penting, tapi ada juga yang hanya sampai batas keisengan temporer belaka. Namun di balik hingar-bingarnya tahun 2016, sudah sepatutnya kita panjatkan puji dan syukur karena Allah masih memberi kasih sayang-Nya melalui PeaceNews untuk tetap konsisten memberi informasi dan kabar gembira bagi masyarakat tentang eksistensi Allah melalui berbagai pembahasan dan topik-topik yang menarik.

Cukup banyak kejadian intoleran di Indonesia yang membuat segudang pekerjaan rumah bagi kita. Dibuka dengan peristiwa bom Sarinah yang terjadi pada awal tahun hingga ditutup oleh pembubaran kegiatan ibadah KKR oleh salah satu ormas Islam di Sabuga, Bandung. Pemberitaan tersebut pastinya membuat khalayak kecewa, sedih, bahkan marah. Namun, sisi lain yang menarik untuk dibahas dari serangkaian kejadian 2016 ini adalah sikap masyarakat Indonesia yang terbilang cukup unik dalam merespon peristiwa-peristiwa tersebut.

Bukannya timbul rasa kecewa/takut, respon masyarakat Indonesia (terhadap Bom Sarinah) malah cenderung “terbuka”, membuat tagar #KamiTidakTakut, bahkan ada yang sampai menyoroti gaya polisi dalam berpakaian dan beraksi. Betapa pun, satu hal yang dapat kita ambil hikmahnya: di tengah banyaknya kabar buruk, ternyata masih ada usaha dari sekelompok orang untuk selalu memunculkan kabar baik/hal positif yang dilakukan dengan cara yang menarik.

Cara inilah yang mungkin menjadi pegangan wajib para peacemaker dalam menebar dan memberitakan perdamaian. Adalah PeaceNews hadir sebagai counter terhadap informasi/peristiwa yang ada dengan mengutamakan hal-hal positif guna membangun masa depan yang lebih baik. Perlahan tapi pasti berkat usaha YIPC, anggapan bahwa ‘bad news is good news’ tidak sepenuhnya taken for granted oleh masyarakat, karena nyatanya mereka sudah mulai pintar dan bijaksana dala memilih dan menyebarkan informasi dari media.

Selamat membaca !

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik  popout

English PeaceNews Fourth Edition

Salam Peace Shalom

About 50 years ago, in the United States (and possibly in other regions) there was a strange assumption stating that the white people are more noble and honorable than the colors. Not only were they socially discriminated, they were also legally marginalized. As a result, the segregation policy was created. For example, there was a special restaurant for only white visitors and a restaurant for the colors. Even if there is a mix restaurant for either white or color people, its table, toilet or sink are separated. It’s terrible, isn’t it? This segregation was also enforced in other public places/institutions, such as education, recreation areas, places of worship, until a public bus. Finally, all Americans citizens have the same right after Martin Luther King Jr. initiated civil rights movements, and these movements reach its peak when Luther King Jr. delivered a phenomenal speech “I Have a Dream.”

The dream of Luther King Jr.’s to uphold equality among all human beings is also our dream. Because our races and ethnics are given by God. Before being born into the world, we have no opportunity to choose our race or ethnic. We also do not have the right to propose or even protest against our ethnic identity. Our ethnic is our destiny. In the presence of the Lord, ethnic does not affect the value and quality of human being. Good or bad quality of human being is not based on ethnicity, but on deeds.

Therefore, we are actually looking at others of different ethnic fairly and equitably since there is no respectable or humiliation ethnic. God has no discriminated against an ethnic or gave more privileges than other ethnics. If we ever hear stereotypes about one ethnic, it must be socially constructed. I think, only do human who creates ethnic or racial status, not God.

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik  popout

PeaceNews Edisi 9 Desember 2016

Guys….

Sebagai pengantar dalam PeaceNews kali ini saya mengawalinya dengan ucapan syukur kepada Allah atas berkah dan RidhoNya karena sampai saat ini ada anak-anak muda yang memiliki kerinduan dan kemauan untuk berkontribusi sebagai Peacemaker ditengah-tengah bangsa ini. YIPC untuk semester ini kembali menyelengarakan Student Interfaith Peace Camp dibeberapa regional sekaligus yakni regional Medan, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa barat. Kegiatan peace camp yang dihadiri lebih kurang 100 orang mahasiswa S1 ini berjalan dengan baik. Hal ini juga patut disyukuri. Kiranya Allah senantiasa menolong semua anggota baru ini menjadi peacemaker disetiap kota dimana mereka berada.

Pada bulan November ini kita tidak dapat menutup mata dengan kasus yang bernuansa agama kembali terjadi di Indonesia. Masih segar diingatan kita terjadinya aksi demo besar-besaran 411 (4 November) atas protes dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok. Ahok sudah meminta maaf namun akan tetap diproses hukum demi keadilan bagi masyarakat Indonesia yang merasa tergangu atau tersakiti oleh pernyataan Ahok. Tentunya kita akan mempercayakan kasus ini sepenuhnya kepada aparat hukum. Selain itu kita juga dikejutkan kembali dengan adanya tindakan terror melalui aksi bom di Gereja Oikumene di Samarinda yang menewaskan balita yang masih berusia 2,5 Tahun. Respons masyarakat terhadap kasus-kasus ini sangat beragam. Ada yang berusaha menyejukkan suasana sehingga tidak terjadi konflik agama yang lebih besar lagi, ada yang mengutuki namun tidak dipungkiri banyak juga yang acuh atau apatis dengan situasi ini.

Sehingga tidak berlebihan jika saya mengatakan Indonesia masih mebutuhkan lebih banyak Peacemaker yang mengambil peran sebagai pembawa damai yang menyejukkan situasi-situasi yang tidak kondusif karena konflik atas nama agama. Tidak hanya menyejukkan tentunya, namun berupaya dengan berbagai strategi mempeluas pengaruhnya untuk melahirkan generasi damai bagi bangsa ini. Kalau saudara memiliki beban yang sama untuk menjadi Peacemaker bagi bangsa ini maka saudara adalah orang pilihan yang dinantikan bangsa ini.

Edisi kali ini menjadi sangat menarik untuk dibaca tuntas karena PeaceNews akan mememaparkan mengenai Hubungan Islam-Kristen menurut Kitab Suci. Seperti kita ketahui bersama, tidak hanya di Indonesia, bahkan di dunia kedua agama ini sarat dengan konflik. Mengupas topik ini berdasarkan kitab suci menjadi sangat penting. Selain itu juga akan membahas nilai perdamaian tentang ekslusivisme kelompok. Kiranya melalui pembahasan kedua topik utama ini para pembaca semakin dicerahkan dan  semakin serius terlibat dalam upaya-upaya perdamaian yang berbasis agama dimulai dari lingkungan kampus.

Salam Peace Shalom!

 

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik  popout

English PeaceNews Third Edition

Salam Peace Shalom

Religion and power has been interesting dynamic for long time. In the past some of states had state religion, mostly those with monarchy system. When democracy replaced the monarch, most of them separate religion and state. In the past people’s migration was still very low. But today in the globalization era, it is very high. Therefore, heterogeneity is unavoidable. Democratic system recognizes equality of all citizens, regardless their ethnicity, religion, sex, and economic identity. Some see this as secular state vs religious state. Indonesia is very unique since in the beginning of Indonesia the founding parents of Indonesia agreed to have Pancasila as its foundation. Indonesia is not a secular state, nor religious state. Therefore every Indonesian has the same right, whether majority or minority is not as issue. It means there is no single religion that above others, or below others. Democracy is a challenge for religious exclusivism to be compatible with political pluralism. (Volf 2015)

Today, Indonesia is facing this challenge in the election. Religion (and also ethnicity) many times is used for political interest, especially to hinder some candidates. If Indonesian people are still primordial, then this kind of issue definitely is effecting the voters. Here we can see how important what we learn in YIPC, especially the peace values. Those who cannot accept other people that different from them, they actually hardly to accept that God is the creator. They hardly to accept that God created human being equal because all of us come from one parent: father Adam & mother Eve (Hawa). From one parent, God purposely made us diverse in ethnicity, skin and fair color, different color and language. Diversity is God’s creativity and beautiful. Those who cannot accept this, rebel against God. They are not in peace with God, with self, and with others. Religious people should know this and practice it.

However again and again, politics and power have blinded people’s eyes. They forgot God and only look for their own interest and benefit. And many times, people can use anything to get what they want, including using religion. It is written in the Bible (Injil) when the religious leaders want to blame Jesus (Isa Almasih). Their goal is to remove Almasih. They use many strategies including religious tradition and the Scriptures too. This is to warn us that as religious people we can fall into this trap if we are not careful.

Interfaith community like YIPC could and should play a significant role to help and transform people to focus to God and accept the diversity equally. Loving God means loving your neighbor as yourself. Everyone can remain as religious exclusivist, but they should practice political pluralism. The Golden rule is applied here, “do to others what you want others do unto you”. YIPC just finished organizing Student Interfaith Peace Camp in 4r cities: Medan, Bandung, Jogja, and Surabaya. We do hope that through this Peace Camp many young people – leaders to be – have become peacemakers. Hopefully they will not blind of power. They will be people of God that will always celebrate and respect the diversity, and able to love each other unconditionally. Amen.

Cara download,

  1. Arahkan kursor ke pojok kanan frame newsletter di atas.
  2. Klik  popout

Bila Prasangka Melahirkan Konflik, Saatnya Anak-Anak Muda Menonton Provokator Damai

Beberapa anggota YIPC Jogja tertarik untuk menonton bersama (nobar) film provokator damai. Harapannya, agar terinspirasi bagaimana sebuah film bisa menyemangati untuk menggerakan semangat perdamaian . Maka, kegiatan nobar ini pun digelar pada saat reguler meeting YIPC Jogja, Minggu (20/11/2016).

Film provokator damai merupakan karya dua sineas Maluku Rifki Husain dan Ali Madi Salay. Film ini menceritakan seputar proses  perdamaian di Maluku pasca konflik kemanusiaan tahun 1999-2004 beberapa tahun silam. Dari film tersebut, para peserta bisa mendapatkan gambaran seputar konflik dan harapan untuk ikutserta menghadirkan perdamaian di lingkungan umat manusia.

Setelah menonton bersama-sama film provokator damai tersebut, para peserta diminta untuk berbagi cerita tentang apa yang didapatkan dari film tersebut. Menurut Laila, anggota baru YIPC Jogja, menegaskan jika film tersebut memiliki nilai-nilai bagaimana agar kita bisa menghilangkan prasangka dan terus berupaya agar membuka diri.

Hal serupa juga disampaikan Muna, menurutnya, hadirnya tindakan kekerasan yang terjadi antar ummat hanya bisa diredam melalui keterbukaan antar sesama, baik islam  maupun kristen. Terlebihnya, upaya agar menghilangkan rasa kecurigaan yang timbul dalam pemikiran kita terhadap ummat beda agama akan hilang apabila diantara kita mau membuka diri dan saling mengenal antara satu sama lain.

Pertemuan rutin YIPC digelar setiap akhir pekan. Agenda tersebut juga menjadi ajang untuk bertemu antar anggota di akhir pekan, entah dengan menggelar scriptural reasoning maupun nonton bersama film-film seputar perdamaian.