Terbujuk Rayu Setan, Kisah Nabi Adam Meminta Ampun kepada Tuhan

Sekelompok anak muda duduk bersama. Mereka adalah anggota dari Young Interfaith Peacemaker Community kota Medan yang sedang menggelar reguler meeting untuk kegiatan scriptural reasoning, Minggu (27/11/16).

Anak-anak muda itu terlihat antusias saat membahas tentang Nabi Adam. Topik yang diangkat pada kegiatan SR minggu ini. Mereka membicarakan kisah seputar perjalanan hidup Nabi Adam, termasuk saat nabi Adam bertobat dan insyaf atas perbuatan dosa yang sedang dilakukannya. Dikisahkan bahwa Nabi Adam termakan bujuk rayu siti Hawa, istrinya, agar memakan buah terlarang. Bujukan itu berasal dari iblis agar kedua makluk tuhan penghuni surga itu melakukan dosa.

Mempelajari kisah Nabi Adam ini pun memberikan wawasan hidup kepada para peserta. Mereka belajar tentang manusia yang tidak terlepaskan dari khilaf dan salah.

Jenny E Saragih, peserta dalam kegiatan SR ini meyakini jika manusia memang tempatnya khilaf dan salah. Namun, kita perlu ingat bahwa sejahat-jatahnya manusia mereka masih bisa untuk insyaf.

“Untuk itu, janganlah ragu untuk segera bertaubat. Segera menyadari segala dosa yang kita perbuat. Menyadari segala kesalahan dan tentu meminta ampunan,” tegas Jenny.

Tidak hanya Jenny, peserta lain pun mengatakan senada. Namun, lebih dititik beratkan tentang pengampunan dari Allah SWT atas dosa-dosa manusia.

“Allah Maha pengampun dosa. Walaupun sebesar apapun dosa itu. Allah tetap memberikan pintu ampunan. Sebagai manusia beriman, kita dianjurkan untuk tidak berputus asa. Tidak berhenti berharap rahmat dari Allah SWT. Bersegeralah bertaubat. Meminta maaf walaupun dosa kita seluas lautan dan setinggi langit,” ungkap Ummi, salah satu peserta yang tahun ini baru mengikuti Student Interfaith PeaceCamp.

Dalam kegiatan SR kali ini, Umi pun belajar tentang perbedaan peran sosial laki-laki dan perempuan. Menurutnya, laki-laki dan perempuan berbeda dan memiliki kodrat. Mereka memiliki tanggung jawab dan kesusahan yang berbeda-beda dalam mengemban tugas.

Walaupun demikian, lanjut Umi, bahwa perempuan tidak harus dibatasi dalam melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh lelaki. Perbedaan yang ada di antara keduanya harus disikapi untuk saling melengkapi satu dengan yang lain. Seperti tanggung jawab yang dibebankan kepada laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Pun juga dirasakan perempuan ketika sedang mengandung.

“Untuk itu, kita sebagai ciptaan Allah. Marilah kita saling menghormati. Saling mencintai antar sesama tanpa membedakan jenis kelamin,” ungkap Umi menegaskan peacevalues dari kegiatan SR tersebut.

Itulah diskusi menarik para pemuda anggota YIPC kota Medan tersebut. Bagi mereka, saat manusia termakan bujuk rayu setan. Maka segera bergegas meminta maaf kepada tuhan. sebab tuhan adalah pemberi ampunan bagi semua makluknya di muka bumi ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *