Toleransi Tanpa Kata “Tapi”

Kita seringkali mendengar beberapa orang berkata bahwa tidak masalah suku atau agama yang berbeda tinggal di dekat (kompleks) rumahnya namun dengan syarat harus A, tidak boleh B, jangan melakukan C, dll.

Seakan-akan mereka menerima perbedaan, namun segudang syarat itu secara tersirat menunjukkan penolakan yang halus.

Apakah ini namanya toleransi? Menerima orang lain dengan beberapa syarat? Menerima orang lain tapi harus mengikuti semua yang dianggap benar oleh satu kelompok?

Penerimaan akan perbedaan harusnya tanpa syarat sehingga akan terjadi dialog-dialog yang natural akan perbedaan itu. Perbedaan sudah menjadi keniscayaan (sunatullah-kehendak Tuhan), demikian juga dimana ada perbedaan secara alamiah konflik pasti akan ada, krn konflik melekat pada realitas perbedaan itu.

Nah, pemahaman bahwa konflik itu mendewasakan hubungan dalam perbedaan sangat penting dimaknai. Oleh karena itu, mari menyelesaikan semua problem keberagaman dengan dialog yang alamiah dan dengan kesadaran saling membutuhkan.

Kalau ini terjadi niscaya konflik akan selesai tanpa kekerasan fisik ataupun psikis.
Namun jikapun dalam konflik itu terlanjur terjadi tindak kekerasan. Kita punya kekuatan yang dahsyat, yang datang dari kebenaran agama, dari sanubari kita yakni kekuatan memaafkan dan memperbaiki hubungan.

Ayo jadikan meminta maaf dan memaafkan dengan tulus jadi budaya kita karena setiap agama dan kepercayaan serta kearifan lokal mengajarkannya.

Kalau hal ini kita pahami dengan benar tentu kita akan bisa bertoleransi tanpa syarat. Hal ini juga akan terwujud dengan kemauan untuk mengenal diri sendiri dan terus berusaha mengklarifikasi prasangka-prasangka.

SELAMAT HARI TOLERANSI INTERNASIONAL.

16 November 2016

“Omah Peace” alias “Rumah Persahabatan”, Riston Batuara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *