Menjaga Kebersamaan

Pada dasarnya setiap manusia memiliki hasrat hidup bersama. Hasrat hidup bersama ditunjukkan dengan sikap saling menghargai, saling menolong dan saling berbagi pesan kebaikan. Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, upaya menjaga kebersamaan semakin mudah dilakukan.

Sayangnya, teknologi terkadang membawa manusia pada sikap hidup yang salah tentang makna kebersamaan itu. hadirnya jejaring sosial semisal facebook, twitter dan Wa sejatinya mampu menghubungkan satu dengan yang lain melewati batas-batas desa, negara bahkan benua. Namun, kebersamaan semacam itu dengan cara berbagi pesan dan kesan tentang pengalaman hidup menyebabkan manusia terbawa pada suasana baru, yang berbeda dari tradisi menjaga kebersamaan yang ada.

Tak jarang dengan sibuk berjejaring sosial, masyarakat yang diwakili oleh masing-masing individu kian melupakan dunia nyata. Mereka sibuk dengan rutinitas dunia maya. Dunia yang tidak bisa tersentuh, tapi bisa dirasakan kehadirannya.

Kebersamaan seperti ini memang penuh dengan interaksi. Interaksi yang tanpa kehadiran dan kenyataan. Beruntungnya, masih ada ribuan manusia yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk berbagi informasi bijak, arif dan semangat saling menghargai sesama manusia. semangat itu ditunjukkan dengan cara menggalang kesatuan dan kebersamaan untuk korban bencana alam, banjir, gunung meletus, kecelakaan dan lain sebagainya. Pemanfaatkan teknologi semacam itu, pada akhirnya menciptakan kesadaran baru untuk bersama-sama mengingat moment paling krusial dalam hidup ini, yaitu ancaman itu hidup sendiri.

Untuk itu, tak ada salahnya kita memanfaatkan teknologi untuk menjalin kebersamaan dan berkomunikasi dengan banyak pihak. Namun, terlalu sibuk dengan teknologi dan melupakan dunia yang dihadapi. Pada akhirnya manusia terjebak pada pola hidup yang salah.

Kebersamaan yang kita bayangkan. Barangkali menjadi kebersamaan yang sulit dirasakan secara nyata yang bisa disentuh dan dinikmati.

Jika mengutip Aristoteles bahwa manusia adalah zoon politicon yaitu individu yang punya hasrat bermasyarakat dan bersama maka sudah sewajarnya dengan teknologi itulah, kebersamaan tidak hanya diterapkan di dunia maya dengan rutinitas facebook, WA dan jejaring sosial lainnya, tetapi juga dalam di dunia nyata dengan semangat gotong royong dan sikap saling menghargai dari perpecahan dan kehancuran.

Jika kebersamaan membutuhkan uluran tangan, senyuman manis, dekapan erat dan jabatan tangan, maka kebersamaan itu hanya di dapat dalam interaksi di dunia nyata. Adapun interaksi dengan jejaring sosial sejatinya juga interaksi yang memudahkan manusia saling terhubung untuk menjaga komunikasi. Hanya saja, mereka (baca : manusia) lebih menyukai interaksi dan kebersamaan di dunia maya. Lalu, kemanakah kita akan membawa kebersamaan jika interaksi terus menerus dalam dunia keseolah-olahan?

Tentu kalian punya jawaban bijak untuk menjalani hidup yang indah ini ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.